SINOPSIS Ruler: Master of the Mask Episode 11



SINOPSIS Ruler: Master of the Mask Episode 9
Sumber gambar: MBC

Hari terus berganti, Putera Mahkota masih tinggal di tempat asosiasi pedagang dan ia terus mengasah kemampuan beladirinya dengan bantuan Chung Woon.



Hari itu, Ia mendapatkan kiriman gulungan yang memberitahukan kabar kalau Departemen Pengadaan Air ingin meminta pedagang membayar hutangnya sekaligus. Putera Mahkota tidak terima mengetahui rakyatnya harus semakin menderita, pemilih toko bahkan sudah kehilangan lapak mereka. Apa yang sebenarnya diinginkan Dae Mok?

Chung Woon menduga mereka ingin mengumpulkan uang rakyat. Putera Mahkota rasa bukan itu tujuannya, bagi seorang Dae Mok, itu terlalu memalukan dan beresiko. Chung Woon bertanya apakah mereka memeriksa saja harta timbunan milik Dae Mok?




Mereka pun memata-matai tempat penimbunan harta Pyunsoo-hwe. Tiba-tiba saja, ditengah pengintaian mereka mendengar adanya keributan. Putera Mahkota terkejut melihat Ga Eun disana.

Ga Eun terus menunduk, ia takut Tae Ho mengenalinya. Woo Jae menginterogasi mereka, ia menanyakan alasan mereka memata-matai tempat ini. Mereka mengelak, mereka bukanlah mata-mata. Mereka sedang beristirahat ditengah perjalanan.



Tae Ho rupanya tetap bisa mengenali Ga Eun, tak disangka mereka bertemu. Woo Jae penasaran, siapa dia? Apa akan menjadi masalah? Bukan masalah, jawab Tae Ho. Dia hanyalah anak pengkhianat jadi tidak akan ada yang mencarinya.

Woo Jae menyuruh Tae Ho mengurus masalah ini. Kalau sampai dia menyebarkan kabar tentang tempat ini, maka dia-lah yang akan membayar mahal. Baiklah, Tae Ho pun memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi mereka semua.  



Mereka semua pun siap menebas Ga Eun dan dua orang Ahjussi yang menamaninya. Namun begitu mereka siap menebas, Putera Mahkota dan Chung Wook keluar dari persembunyiannya dan menyerang mereka.

Tae Ho bersiap mengeluarkan pedangnya, namun Ga Eun buru-buru memungut pedang di tanah kemudian mengarahkan mata pedang itu ke lehernya. Tak punya pilihan, Tae Ho menyarungkan kembali pedangnya. Putera Mahkota dan Chung Woon siaga memperhatikan pergerakan Tae Ho.


Tae Ho menggunakan sarung pedangnya untuk menyingkirkan pedang Ga Eun dari lehernya kemudian berbalik menebasnya. Beruntung, Putera Mahkota berhasil meraih tubuh Ga Eun dan menghindari tebasan itu. Kemudian ia berhasil mencuri kesempatan untuk kembali mengarahkan pedang ke leher Tae Ho.

Chung Woon menyuruh mereka untuk pergi sekarang. Ia pun menggantikan posisi Putera Mahkota mengarahkan pedangnya ke leher Tae Ho. Begitu semua orang berhasil pergi dengan selamat, barulah Chung Woon ikut kabur bersama mereka.


Ga Eun berlari dengan terpincang-pincang. Orang-orang Pyunsoo-hwe sudah tak jauh dibelakangnya. Bertepatan saat itu, Chung Woon dan Putera Mahkota menghampirinya dengan menunggang kuda. Chung Woon mengulur waktu dengan melawan prajurit Pyunsoo-hwe.


Putera Mahkota mengulurkan tangannya pada Ga Eun, dia akan membawanya pergi dari sana. Ga Eun agak ragu apalagi melihat penampilan mereka yang tampak sangat misterius menggunakan cadarnya. Tapi situasinya terjepit, dia tak bisa menolak dan menerima uluran tangan Putera Mahkota.



Tae Ho membawa pasukan pemanahnya pula, dia mengintruksikan pada mereka untuk memanah sekarang. Putera Mahkota sigap melindungi tubuh Ga Eun dan bergegas pergi darisana. Begitu Putera Mahkota aman, Chung Woon pun kabur ke arah yang berlawanan dengannya.


Ditengah pelarian mereka, cadar yang digunakan Putera Mahkota terbang terbawa angin. Ga Eun menoleh ke arahnya, dia terkejut mengetahui orang bercadar itu adalah Chun Soo (samaran Putera Mahkota).


Begitu sampai ke tempat aman, Putera Mahkota langsung menurunkan Ga Eun. Ga Eun memanggilnya, “Tuan Chun Soo”

“Aku tidak tahu siapa maksudmu, tapi aku bukanlah Chun Soo.” Putera Mahkota bergegas pergi meninggalkan Ga Eun.


Ga Eun masih terus memandangi kepergiannya. Dua orang Ahjussi muncul dari hutan, keduanya begitu senang bisa bertemu dengan Ga Eun Agashi lagi.


Genderang ditabuh menyambut kedatangan Putera Mahkota, semua orang memberikan hormat padanya dan memanggilnya Ketua. Putera Mahkota sampai malu dan meminta mereka berhenti bersikap formal padanya. Ahjussi mengaku kalau dia juga tidak nyaman, tapi semua orang sudah menunggunya.

“Aku sering dengar bahwa meski sedang tidak melakukan apa-apa, aku tetap terlihat tampan dan berwibawa.” Canda Putera Mahkota.

“Hei, hentikan! Sebelum aku kehilangan kesabaranku, ayo pergi.”


Putera Mahkota melakukan pertemuan dengan para pedagang. Ia menginstruksikan agar mereka tidak lagi menerima uang Sangpyeong Tongbo. Mereka kebingungan, lalu apa yang akan mereka dapatkan?

Mereka sudah sejak lama menjual katun kualitas bagus ke Sangpyeong Tongbo, jadi mereka terima saja perak atau emas. Kalau mereka mengikuti perintahnya, semua akan kembali seperti sedia kala. Kalau penyelidikannya sudah selesai, dia akan menjelaskan pada mereka. Ia kemudian bertanya pada Ahjussi, apa dia tahu tempat yang menjual tembaga secara bebas?



Tidak, Ahjussi tidak lagi melihat orang menjualnya secara bebas sejak tiga tahun lalu. Bahkan ia tidak pernah melihat mangkuk tembaga lagi. Putera Mahkota kembali bertanya, dimana tempat penambangan tembaga di Joseon?

“Biasanya ditambang di wilayah timur, tapi jumlahnya juga tidak banyak, jadi biasanya di import dari Jepang.”

“Maksudnya, tembaga adalah otoritas Biro Perdagangan?”

“Entahlah. Para petugas di sana diganti beberapa tahun lalu. Entah ada rahasia apa di baliknya, tapi mereka semua terlalu takut untuk buka mulut, jadi kami tidak dapat informasi apa-apa dari Biro Perdagangan.”

“Bila ada informan yang sekiranya tidak saya kenal, tolong cari tahu tentang transaksi tembaga.” Pinta Putera Mahkota.


Ga Eun sampai juga ke tempat tujuannya. Dia bertanya pada seorang pedagang mengenai Kepala Pedagang. Pedagang itu menunjukkan tempat tinggal Kepala Pedagang, tapi sekarang sedang ada pertemuan. Ga Eun harus duduk menunggunya.



Putera Mahkota keluar dari rumahnya, beberapa orang menyapanya ramah dan menyebutnya sebagai Kepala Pedagang. Ga Eun tak menyangka kalau Kepala Pedagang adalah Chun Soo. Ia memanggilnya, apa benar kalau dia Tuan Muda Chun Soo? Putera Mahkota masih mengelak, dia salah orang.

“Ini karena surat yang kutinggalkan untukmu? Atau karena aku tidak memenuhi janjiku, maka kau pura-pura tidak mengenalku?”


Putera Mahkota masih bersikeras tak mau mengakui Ga Eun. Dia tidak pernah membuat janji dengannya. Ia pun pergi, ingin mengabaikan Ga Eun. Tapi ia tak tega begitu melihat kaki Ga Eun berdarang karena menggunakan sepatu jerami.

Putera Mahkota menarik tangan Ga Eun menuju rumahnya, dia mengganti sepatu jerami itu dengan sepatu yang layak. Dia membantunya bukan karena mengenalnya, tapi dia akan tetap membantu semampunya. Dia meminta Ga Eun mengatakan tujuannya datang kesana.



Chung Woon menemui Putera Mahkota yang tengah merenung memandang langit. Ia melihat interaksi mereka berdua tadi siang, dia bertanya apakah Putera Mahkota merasa bingung karena bertemu Nona Ga Eun lagi?

Putera Mahkota hanya merasa kecewa. Dia berharap Ga Eun bisa hidup bahagia selamanya tanpanya. Orang yang di panggil “Chun Soo” dan orang yang pura-pura tak mengenalnya, tak lain adalah dia sendiri. Tapi kenapa ia merasa kecewa?

“Kenapa tidak menghampirinya, ‘Aku bukan Chun Soo, aku Putera Mahkota,’ dan mengatakan kebenaran itu? Hamba kira Anda akan bersyukur tak ketahuan olehnya. Rupanya hamba salah.”

Putera Mahkota menahan air matanya, “Ya. Aku sangat bersyukur tidak ketahuan olehnya meski kami bertemu kembali.”


Ga Eun tak bisa tidur memikirkan bagaimana orang yang begitu mirip dengan Chun Soo terus mengelak kalau ia bukanlah Chun Soo. Ia pun keluar kamar untuk menghirup udara segar. Tanpa sengaja, ia melihat ada kunang-kunang yang terbang tak jauh darinya. Cantik, Ga Eun tertarik untuk terus mengikutinya.

Ia terus mengikuti kunang-kunang yang membawanya menuju Putera Mahkota. Putera Mahkota masih merenung di tempatnya, ia meremas kalung bulan matahari yang ia berikan pada Ga Eun sebelumnya. Wajahnya menampakkan kepiluannya.



Putera Mahkota seperti tinggal dalam dunianya sendiri, sampai tak sadar Ga Eun sudah berdiri dihadapannya dan menatapnya dengan lembut. “Apa aku sangat mirip dengan pria bernama Chun Soo itu? Dari tatapan mata Nona, dia pasti cinta pertamamu.”

“Ya. Meski sangat mirip dia, kau bersikukuh bukan Chun Soo. Segenap hatiku merindukan orang itu.”


Ga Eun dengar, besok mereka akan pergi ke Ibukota. Putera Mahkota mengiyakan, ia akan menyelesaikan masalah para pedagang. Jadi ia harap, Nona tidak kemana-mana. Tidak, Ga Eun ingin menyaksikan sendiri bagaimana mereka menyelesaikan masalahnya.

Putera Mahkota memperingatkan kalau perjalanan ini akan berbahaya. Namun Ga Eun enggan mendengar segala alasannya, “Kalau begitu, sampai jumpa besok.”


Putera Mahkota tersenyum dengan melihat sikap keras Ga Eun, dia masih seperti yang dulu.


Salah seorang pejabat mengadu pada Ratu kalau Raja selalu saja menerima permintaan Dae Mok mentah-mentah. Apa yang harus mereka lakukan. Ratu menghela nafas berat, andai saja Raja muda tahu intrik-intrik kerajaan. Dia akan menemuinya.


Sun membaca setiap gulungan yang diajukan oleh para pejabat. Sun tampak lelah mental, dia pun mengiyakan tanpa pikir panjang saat melihat kode titik tiga ditepian kertasnya.

Pejabat meminta Raja untuk memberikan persetujuan supaya mereka bisa memberikan hukuman berat pada warga yang mencuri air, mereka ingin menjadikannya sebagai kriminal berat. Kontan Sun ingat akan nasib ayahnya yang berakhir digantung oleh orang-orang Departemen Pengadaan Air.


Seketika emosinya membuncah, “Kalian semua itu dibayar oleh negara. Namun bukannya peduli para rakyat, kalian hanya peduli pada Departemen itu dan obsesi mereka. Menghukum orang-orang yang mencuri dari waduk mereka? Departemen Pengadaan Air bahkan memiliki hak peradilan sendiri.”


Mereka berkilah bahwa mereka akan tetap menunggu persetujuan. Sun semakin marah, mereka tetap tidak punya hak merenggut nyawa orang lain. Sekarang juga, bebaskan semua orang yang tidak bersalah. Kontan para pejabat kasak-kusuk, sepertinya kaget dengan pemberontakan Sun kali ini.


Ratu melakukan pertemuan dengan Sun, dia kelihatan senang karena Sun membebaskan warga tak bersalah. Dulu, ia khawatir melepaskan tampuk kekuasaannya dan membiarkan Raja muda memimpin.


Tapi ia rasa keberaniannya semakin kuat, ia meminta Raja untuk memegang tanggungjawabnya sebagai Raja. Mulai sekarang, tetaplah mempertahankan harga dirimu sebagai seorang Raja. Sun mengiyakan saja ucapan Ratu dan kelihatan sekali kalau ia terbebani dengan kata-katanya.



Sun pergi meninggalkan istana untuk menemui Dae Mok. Meskipun posisinya menjadi Raja, sudah jelas dia harus membungkuk dalam dihadapannya. Dae Mok kelihatan marah karena Sun membebaskan orang-orang itu, apa dia ingin mempertaruhkan nyawanya? Kalau dia tidak minum poppi, nyawanya melayang.

Rasa nyeri muncul di dada Sun, seketika Sun pucat dan dadanya terasa amat sakit. Ia memohon ampun atas keputusannya itu. Ia memperingatkan supaya Sun tak menentang Pyunsoo-hwe lagi. Atau dia akan menggantinya dengan orang lain.

Dae Mok meletakkan anggur poppinya di lantai. Sun harus merangkak mengambilnya. Dae Mok dengan sengaja menendangnya dan membuat Sun merangkak menyedihkan. Auh..


Dae Mok berpapasan dengan Woo Jae, ia bertanya-tanya dimana keberadaan Hwa Gook. Woo Jae mengatakan kalau Hwa Goon punya acara penting sendiri, dia meminta maaf karena tidak bisa datang. Dae Mok kelihatan kesal, kenapa susah sekali bertemu dengannya sekarang.

“Apakah Anda tidak bangga pada Hwa Goon? Tanpa bantuan siapa-siapa, dia bisa mengurus sebuah kelompok besar seperti itu.” ujar Woo Jae. Dae Mok langsung memberikan tatapan tajam hingga Woo Jae tak berani bicara apa-apa lagi.



Hwa Goon berada disebuah dermaga dan melakukan barter dengan orang Jepang. Ia menawarkan barter antara katun dan perak. Semuanya berjalan mulus, berkat Hwa Goon yang andal dalam tawar menawar.


Ga Eun mengeluh soalnya mereka harus melewati jalur yang sulit. Putera Mahkota enggan disalahkan, sebelumnya dia mengatakan kalau perjalanannya berbahaya. Masalah yang Ga Eun persoalkan bukan itu, tapi kenapa juga dia harus menunggang kuda dengannya?

“Orang yang tidak mau disuruh istiahat saja adalah Nona sendiri. Dan pasti lebih tidak nyaman kalau berbagi kuda dengan kakak yang itu! Memangnya ada pilihan lain? Atau kau memilih ditinggal disini saja?”


Rumor mengatakan kalau Kepala Pedagang akan menyelesaikan persoalan, sebagai gantinya hanyalah loyalitas saja. Ternyata itu tak benar, sindir Ga Eun. Putera Mahkota pikir itu bukanlah rumor melainkan reputasinya. Ga Eun berdecih, apa dia mau menjadi orang paling populer di Joseon?

“Iya. Aku harus menjadi sepopuler mungkin sampai temanku di istana akan mendengar tentangku.” Ujar Putera Mahkota kemudian melanjutkan perjalanan.


Sun kelihatan sangat tertekan. Dia melihat tebing tempat Putera Mahkota jatuh, ia sungguh putus asa dan berniat menjatuhkan diri dari sana. Namun tiba-tiba seorang prajurit menghentikannya. Sun membentaknya marah, siapa yang menyuruhnya kesana?


Prajurit itu bersujud mohon ampun, dia hanya ingin memberi hormat. Yang Mulia telah membebaskan para tawanan Departemen Pengadaan Air dan salah seorang dari mereka adalah ayahnya. Terimakasih karena beliau sudah menyelamatnya nyawa ayahnya.


Air mata Sun menggenang, tercengang tak menyangka apa yang sudah ia lakukan menyelamatkan nyawa orang lain. Orang bodoh sepertinya bisa menyelamatkan nyawa oranglain?

Sun tak bisa menahan tangis, “Seandainya ini Yang Mulia (Yi Sun), dia tak akan jadi Raja sepertiku.”


Para pedagang di tempat Ga Eun mulai ketar-ketir, kebanyakan dari mereka belum bisa membayar sepenuhnya dan mereka juga tidak mendapatkan kabar dari Nona Ga Eun. Ibu Sun menenangkan, mereka tunggu saja Nona kembali besok.



Putera Mahkota membawa Ga Eun menuju perkumpulan pedagang besar. Ga Eun kesal mengetahui Putera Mahkota malah menemui pedagang besar, yang dia inginkan adalah menyelamatkan pedagang kecil. 

Mereka pasti punya kemampuan bertahan, namun orang-orang miskin akan menjadi gelandangan karenanya. Kenapa bukannya ke Pasar Seomun, tapi dia malah kemari? Apa dengan membantu mereka, dia akan lebih populer daripada membantu rakyat miskin?


“Pikirmu, aku ini siapa? Aku bukanlah Raja negeri ini, tidak berkuasa, maupun kaya raya. Kenapa kau berpikir aku akan menyelesaikan masalah ini?” ujar Putera Mahkota santai.


Hwa Goon memimpin jalannya pertemuan dengan para saudagar kaya. Dia menginstruksikan bagaimana pembagian bahan pangan yang akan para pedagang lakukan. Salah seorang dari mereka sudah mengkalkulasikan hasilnya, kalau mereka membayar hutang ke Departemen Pengelolaan Air, mereka hanya punya sisa 37 perak.

“Kita harus bersiap untuk krisis agar tidak jatuh saat mereka mendadak menarik hutang ada kita. Lebih baik, selama beberapa ke depan, tidak meminjam uang lagi dari Departemen itu.” jelas Hwa Goon.


Seseorang muncul tiba-tiba, “Yakin... bisa melewati krisis itu?”


Hwa Goon terkejut melihat sosok Putera Mahkota yang dikiranya sudah menghilang. “Putera Mahkota?” desisnya.

Postingan terkait:

4 Tanggapan untuk "SINOPSIS Ruler: Master of the Mask Episode 11"

  1. Balasan
    1. Hehe iya udah diperbaiki, makasih yah

      Hapus
    2. Ya mb. Keren mb sinopsisnya. Tetap semangat ya. Ditgg yg selanjutnya­čśü

      Hapus
  2. Masukkan komentar Anda....tetap aja bikin baper euhh.. Kapan dua sahabat itu bertemu sihh _- auahhh gelap :'v mangat mba bikin sinopnya

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan. Dilarang copas ya kawan! Happy Reading ^_^