SINOPSIS Strong Women Do Bong Soon Episode 8 Bagian 2



SINOPSIS Strong Women Do Bong Soon Episode 8 Bagian 2
Sumber gambar: tvN

Polisi melakukan rapat mendadak akibat kejahatan penculikan Dobong-dong semakin serius. Sedangkan Ahjumma Dobong-dong juga berkumpul untuk membahas solusi menjaga keamanan daerah mereka.

Polisi menyimpulkan jika pelaku hanya mengincar wanita dengan berat 40-48. Dan wanita yang diculiknya diduga masih bertahan hidup sampai sekarang. Korban pertama yang meninggal menunjukkan bekas luka tidak mendalam, sepertinya pelaku tanpa sengaja membunuh korbannya.

Polisi menunjukkan poster drama yang tayang di Daehakno. Dalam drama tersebut, karakter utamanya menculik tujuh wanita kemudian menikahinya secara bersamaan.  Mereka sudah mempersempit pencarian dan menduga aktor utamanya yang menjadi pelaku penculikan. Mereka akan melakukan penyelidikan lebih dalam.



Seseorang menyarankan agar mereka menurunkan tim Divisi Khusus untuk menggantikan polisi yang berpatroli di daerah Dobong-dong.


Polisi daerah Dobong-dong menerima kabar jika polisi Divisi khusus akan menggantikan mereka. Mereka pun tak mau kalah, yang harus mereka lakukan adalah menangkap pelakunya sebelum Divisi Khusus menemukannya.



Bong Soon terpana melihat karyawan Tim Perencanaan dan Pengembangan tengah bekerja. Iseng, Min Hyuk yang baru datang langsung berteriak menganggetkan Bong Soon. Apa yang tengah ia lakukan? Bong Soon tidak menjawab dan mengajak Min Hyuk untuk pergi. Dia akan menangkap pelakunya, ia tak akan membiarkan polisi menangkapnya lebih dulu.

Mulut Min Hyuk sudah bergerak ingin mengatakan sesuatu. Namun sayangnya, Bong Soon terlalu bersemangat dan jalan duluan tanpa memperdulikan Min Hyuk.



Mereka kembali berlatih bela diri, Min Hyuk akan mengajari teknik bela diri yang baik. Dia menyuruh Bong Soon untuk menyerangnya. Bong Soon pun menggunakan tinjunya untuk melawan Min Hyuk, tapi teknik Min Hyuk lebih unggul sehingga ia bisa mematahkan serangan Bong Soon.

Namun saat Min Hyuk menyerang, Bong Soon dengan mudah mampu memelanting kakinya kemudian membantingnya dengan enteng. Dia mengunci lehernya dengan kaki dan menarik lengannya sampai Min Hyuk tak bisa berkutik lagi.


Semangat Min Hyuk membara setelah dikalahkan oleh Bong Soon. Pertandingkan babak keduanya dimulai. Namun baru beberapa kali saling serang, Bong Soon kembali menggunakan kakinya untuk memelanting kaki Min Hyuk. Kontan Min Hyuk terbanting dan Bong Soon menindihnya lalu mengunci kepalanya menggunakan lengan.


Seusai berlatih, tubuh Min Hyuk pegal-pegal semua karena Bong Soon sudah menekuk-nekuk tubuhnya sesuka hati. Bahkan saat ingin membuka botol air, Min Hyuk tak kuat dan meminta Bong Soon membantunya.



Latihan mereka pun terus berlanjut, mulai dari berlari pagi. Kemudian melatih kemampuan menghindar Bong Soon. Melatih kekuatan kaki dan melatih kekuatan tinjunya menggunakan samsak.

Pasti ada alasan mengapa aku diberi kekuatan khusus seperti ini. Orang yang memiliki kekuatan sedang menyalahgunakan nya. Oh, no. Aku akan menggunakan kekuatanku untuk menghancurkan mereka. Aku si kuat Do Bong Soon. Oh yeah. Serang!” batin Bong Soon.


Anak-anak SMA nakal kini sudah tobat dan memunguti sampai sesuai perintah Bong Soon. Namun salah satu diantara mereka terpancing emosi karena melihat Ahjussi ronda yang membuang putung rokok sembarangan. Salah satu dari mereka membentak Ahjussi itu supanya membuang sampah ditempatnya. Namun Ahjussi malah menertawai mereka, mungkin mata mereka akan lebih baik kalau menerima pukulan darinya.


Terjadilah pertengkaran diantara Ahjussi dan anak-anak SMA tadi. Ahjussi berhasil mengalahkan anak-anak SMA dengan muda, mereka pun menyuruh anak-anak SMA itu untuk memanggil bos mereka kemari. Terpaksa, mereka menelepon Bong Soon untuk memberitahukan jika mereka baru saja dipukuli. Bong Soon berdecih malas, disuruh memungut sampah malah bikin keributan.



Saat Bong Soon sampai disana, anak-anak SMA langsung bersembunyi dibalik punggungnya sambil mengadu layaknya anak kecil. Bong Soon tanya apa yang sudah mereka lakukan pada anak-anak itu sampai wajahnya babak belur. Tiga Ahjussi berkasak-kusuk ria saling memastikan jika wanita dihadapannya adalah Do Bong Soon.

Tiga Ahjussi beralasan jika mereka sedang bertugas jadi tidak bisa bicara dengan Bong Soon. Bong Soon senang mendengar kalau mereka sedang bertugas, tapi seharusnya mereka juga menjaga lingkungan.

Seorang Ahjussi sengaja meludahkan riaknya di sepatu Bong Soon. Kontan Bong Soon geram menerima perlakuan kurang aja, dia menyuruh mereka untuk segera mengelap sepatunya. Tiga Ahjussi malah meledek Bong Soon dan mengajaknya bertarung. Dia mempersilahkan Bong Soon untuk memukulnya lebih dulu, dia tak mau disangka memukul wanita duluan.


Mereka bertiga mulai memancing Bong Soon dan mencoba meninju wajahnya. Tapi sayangnya, Bong Soon sekarang sudah pandai menghindari pukulan. Bong Soon segera menarik lengan salah satu Ahjussi kemudian melemparnya dengan enteng. Ahjussi ke-dua pun bisa dia pelintir tangannya dengan mudah. Dan yang ketiga, Bong Soon memukulnya kemudian menyentil gigi-giginya sampai melayang.



Baek Tak tengah berkumpul dengan anggota gangster. Gwang Bok tengah makan dihadapannya, mulutnya kesulitan mengunyah tofu hingga harus melewer keluar dari mulutnya terus. Baek Tak sampai jijik sendiri memperhatikan caranya makan.


Datanglah seorang utusan, dia mengabarkan jika anak buah mereka berhasil dikalahkan oleh Do Bong Soon lagi. Sontak Baek Tak marah, apalagi gangster kali ini berasa dari Taiwan dan Bong Soon masih bisa mengalahkannya. Sangat memalukan, harga diri Baek Tak serasa dilecehkan olehnya. Bong Soon bukanlah seorang wanita melainkan musuh mereka. bagaimana caranya untuk mengalahkan dia? Sungguh memusingkan!

“itu tidak akan mudah.” Celetuk salah seorang dari mereka.


Baek Tak menyuruh orang itu mendekat. Pria itu pun bergegas memasang telinganya didepan mulut Baek Tak. Baek Tak langsung berteriak sekencang-kencangnya, “Memangnya kau pikir aku tidak tahu!! Siapa bilang akan mudah!!”


“Jadi kau tidak tidur di rumah Presdir Ahn lagi?” tanya Gyeong Sim.

Tidak, Bong Soon akan menjaga Dobong-dong. Dia bergelendot manja dilengan Gyeong Sim seraya mengucapkan terimakasih karena sudah cepat sembuh. Sekarang Gyeong Sim sudah bisa pulang ke rumah. Gyeong Sim juga sudah bosan berada di rumah sakit. Tapi ngomong-ngomong, dia rasa tangan Bong Soon sekarang tidak terasa kuat seperti sebelumnya. Bong Soon mengaku jika dia sudah berlatih untuk menahan kekuatannya. Ia sudah mempelajari caranya menggunakan kekuatan. Dirinya bukan-lah Bong Soon yang dulu.


Bong Soon curhat memberitahukan keresahannya karena pacar Gook Du sering menemui Bong Ki. Kalau boleh berpendapat, Gyeong Sim juga mungkin akan lebih memilih bersama dengan Bong Ki. Tetap saja, Bong Soon tidak bisa menerima hal semacam itu. Kalau memang sudah membuat keputusan dan meletakkan dia dalam hatinya, kenapa dia malah berubah?

“Perasaan bisa berubah dengan mudah saat kau berada dalam suatu hubungan. Cinta itu seperti jungkat-jungkit. Seperti ayunan. Naik dan turun. Seperti yang Ibumu katakan, kau bisa saja nanti jadi suka pada Presdir Ahn.” Ucap Gyeong Sim.


Saat Hee Ji keluar dari studio latihan, Gook Du sudah menantinya diluar dan mengajaknya untuk bicara berdua. Gook Du mengaku jika ia sudah memikirkannya matang-matang. Semuanya memang salahnya, jika seorang pria tidak bisa membuat wanitanya percaya jika ia mencintainya maka perasaan wanita akan terus goyah.



Tapi Gook Du meminta maaf. Dia baru menyadari jika ada seseorang yang menempati hatinya sejak dulu. Hee Ji terkejut, apa dia tengah berkencan dengan wanita lain? Gook Du mengelak, dirinya selalu menganggap orang yang disukainya adalah anak kecil. Tapi hatinya terasa sakit ketika dia terluka dan rasanya membuat dia gila. Hee Ji tersenyum kecut, pasti Gook Du memang sangat menyukai wanita itu.

“Aku minta maaf.” Ucap Gook Du lagi.


Gyeong Sim sudah boleh pulang tapi masih harus istirahat dirumah. Bong Soon memperingatkan supaya dia tetap berada di rumah. Meskipun menggunakan alarm itu, jangan terlalu mempercayainya. Setelah selesai pengobatan, dia harus segera kembali ke Busan secepatnya.

Bong Soon kemudian memberikan sebuah hadiah untuk Gyeong Sim merayakan kepulangannya dari rumah sakit. Gyeong Sim sangat menyukai aroma shampoo pilihan Bong Soon.



Tidak lama kemudian, ponsel Bong Soon berdering menerima SMS dari Min Hyuk. Dia tanya apakah Bong Soon masih tidur. Bong Soon menjawabnya asal, iya. Kalau memang masih tiduran, Min Hyuk menyuruhnya supaya segera bangun. Dia harus pergi ke suatu tempat dengannya dan dia akan membayar gaji lembur dua kali lipat. Pakai baju yang bagus, samphoo-an dan tampillah seperti layaknya manusia.

“Kita ingin kemana?”

“Rumah orang tuaku.”

“Mengapa aku harus pergi ke sana?”

“Aku berangkat sekarang. Bersiaplah.” Pungkas Min Hyuk tanpa memberikan jawaban.


Gyeong Sim tanya siapa yang tengah ber-SMS ria dengan Bong Soon. Bong Soon mengatakan jika orang itu adalah Presiden Ahn. Tak lama kemudian, datanglah Ibu yang mengajak putrinya untuk berdoa di kuil. Bong Soon menolaknya, dia harus pergi ke suatu tempat. Ibu tidak suka mendengarnya, siapa?

“Ahn-seobang.” Celetuk Gyeong Sim.

Kontan Ibu berlari keluar kamar Bong Soon untuk bersiap-siap menyambut kedatangan calon menantunya. Tidak lama berselang, Min Hyuk sudah ada dihalaman rumah Bong Soon menjemputnya. Ibu menyapa Min Hyuk dengan manis, dia menyuruhnya untuk masuk ke rumah. Min Hyuk meminta maaf soalnya dia memanggil Bong Soon di hari liburnya.

Ibu sih malah seneng, boleh saja memanggil Bong Soon kapanpun bahkan 365 hari dalam setahun, 24 jam sehari. Ia pun mengajak Min Hyuk untuk menunggu di dalam rumah saja. Min Hyuk kikuk menolaknya namun Ibu tetap memaksa dengan manis. Anjing di rumah Bong Soon menggonggong membuat keributan. Ibu yang nada bicaranya sedari tadi lembut, seketika berubah galak membentak anjingnya. Wkwkw. Min Hyuk sampai kaget sama teriakan Ibu.


Bertepatan ketika Min Hyuk masuk ke rumah. Bong Soon baru turun dari kamar sambil menggosok gigi. Dia sampai kaget dan buru-buru masuk ke kamar mandi, kesel karena Ibu membawa Min Hyuk masuk rumah.


Min Hyuk yang canggung memutuskan untuk pamit menunggu diluar saja. Ibu melarangnya, mereka sarapan bareng saja. Min Hyuk coba menolak ajakannya, tapi Ibu malah tanya, “Kau bukan bermaksud, kalau kau tidak makan makanan di sembarang tempat, kan? Apa mungkin kau hanya makan makanan mewah di rumah yang bagus?”

“Tidak, bukan itu. Jangan beranggapan seperti itu.” Min Hyuk menjadi tidak enak hati.


Dia pun ikut acara sarapan dirumah Bong Soon. Ibu pun menyambut kedatangannya dengan menyiapkan satu meja penuh makanan. Bong Soon sampai heran sendiri, untuk apa mereka menyiapkan lauk sebanyak itu? Ibu mengomelinya, selama ini kan dia sudah mengajarkannya supaya tidak membuat tamu kelaparan.


Ibu mengedipkan mata pada Ayah. Ayah bijak meminta Min Hyuk supaya tidak tertekan, kalau memang tidak mau makan, tidak apa-apa. Min Hyuk mengelak, dia pun bergabung makan bersama keluarga Do.

Mereka makan sambil berbincang-bincang dan memberikan lauk satu sama lain. Min Hyuk tersenyum menyaksikan kehangatan di keluarga ini. Ia pun akhirnya bisa berbaur bersama mereka dengan lebih santai.



Namun suasana tempat makan yang hangat dirumah Bong Soon sungguh berbanding terbalik dengan acara makan dirumah keluarga Han. Semua duduk dengan tegang, tak ada seorang pun yang berani mengucapkan apa-apa. Tuan Ahn tanya, apa yang membuat Bong Soon menyukai putranya?

“Dia tampan. Dia punya kepribadian yang baik.” Jawab Bong Soon kikuk.



Wus! Suasana semakin hening sampai suara angin bisa kedengaran. Bong Soon bingung untuk memberikan reaksi. Dia akhirnya mengatakan hal yang sejujurnya, dia menyukai Min Hyuk karena dia orang yang aneh. Sontak pengakuan Bong Soon mampu membuat Tuan Ahn tertawa lantang.

Bong Soon ikut cengengesan menepuk tangan Min Hyuk. Tuan Ahn meminum airnya karena tertawa. Saudara dan Ibu tiri Min Hyuk bergegas meraih sendok mereka untuk mulai makan. Namun Tuan Ahn kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Bong Soon, mereka berempat pun terpaksa membatalkan acara makannya. Keluarga yang super formal.


Tuan Ahn membawa Bong Soon untuk bicara berdua di balkon. Dia sebelumnya merasa khawatir karena rumor yang bertebaran, tapi dia bisa lega setelah melihat Bong Soon. Dulu, dia mengirimkan Min Hyuk ke luar negeri selepas Ibunya meninggal. Dia punya banyak wanita, ia jadi mengkhawatirkannya.

Tapi kemudian Min Hyuk malah berhenti menemui wanita dan rumor tentang dirinya mulai berkembang. Tuan Ahn merasa bersalah dengan apa yang menimpa putranya. Ia meminta Bong Soon untuk menjaga Min Hyuk dengan baik.



Sepanjang perjalanan pulang, Bong Soon masih terus memikirkan ucapan Tuan Ahn. Dia juga ingat ucapan orang-orang yang yakin jika Min Hyuk bukanlah seorang gay. Min Hyuk ngoceh memuji kemampuan Bong Soon dalam mengucapkan kata dengan empat suku kata. Sungguh sangat aneh? Ini adalah dampak dari latihan yang sudah ia berikan pada Bong Soon.


Bong Soon berniat memasang sabuk pengamannya, namun dia kesulitan menarik talinya sehingga Min Hyuk membantu memasangnya. Mata keduanya tanpa sengaja saling memandang satu sama lain. Min Hyuk pun tertegun menatap kedua manik mata Bong Soon. Tapi dia buru-buru memalingkan wajah setelah menyadari apa yang ia lakukan. Ia gugup mengatai Bong Soon, harusnya dia bisa memasang sabuknya sendiri.


Bong Soon protes saat Min Hyuk membawanya pergi entah kemana. Min Hyuk mengatakan jika ia ingin membawa Bong Soon menemui wanita yang paling dia cinta. Masih terus protes, Min Hyuk menegaskan jika dia sudah membayar gaji lemburnya.

Keduanya sampai didepan pohon besar, Min Hyuk meletakkan buket bunga disana, “Hai Ibu.”

Aku datang dengan seseorang yang ingin kukenalkan padamu.” Lanjut batin Min Hyuk. Bong Soon tidak lagi protes mengetahui Min Hyuk ingin pergi ke makam ibunya.


Mereka berdua jalan-jalan ke tepi sungai didekat sana. Min Hyuk mengatakan jika Ibunya sangat menyukai film When Harry Met Sally. Dialog yang paling dia sukai adalah, “Tidak ada pria yang hanya ingin sebatas teman dengan wanita yang mempesona.”

Bong Soon cemberut karena dia bukan wanita yang mempersona sehingga dia hanya bisa berteman. Min Hyuk menegaskan jika teman Bong Soon sangat menyukainya, sungguh sangat menyukainya. Menganggap Bong Soon sebagai teman adalah hal tersulit dilakukan seorang pria. Hanya ada dua kemungkinan, temannya berbohong atau dia tidak mau kehilangan Bong Soon.

“Tidak. Kami berteman. Aku dapat meyakinkanmu itu.”


Min Hyuk menatap Bong Soon, ada cara sederhana seorang teman menjadi kekasih. Salah satu diantara mereka harus mengambil satu langkah. Min Hyuk mengambil satu langkah mendekat pada Bong Soon, jarak diantara mereka sangat sedikit “Satu langkah ini akan mengubah hubungan mereka. Seperti ini.”


Keduanya bertatapan cukup lama sampai akhirnya Min Hyuk memilih untuk jalan-jalan ke tepi sungai. Bong Soon masih terus menatap Min Hyuk, “Satu langkah. Gook Du dan aku melewatkan satu langkah itu. Tapi, hari itu... Min Hyuk maju satu langkah untuk lebih dekat padaku.” Batinnya.


Di kantor polisi, para polisi daerah Dobong-dong bersemangat mengungkapkan kasus ini. Mereka kesal soalnya Divisi Khusus menolak untuk membagikan informasi mereka dengan pihak kepolisian daerah. Ketua Tim Yook bersemangat, “Itu adalah dialog yang terkenal dari Kepala Inspektur Episode 86. Bahkan pelakunya mungkin akan tertangkap, jika ada polisi yang memberinya tatapan.”

Mereka memeriksa dashcam dan menemukan mobil pelaku menuju ke daerah pinggiran kota. Gook Du tertegun mengingat ucapan Bong Soon, dia bilang mencium bau bensi seperti saat sedang meratakan aspal. Kontan dia berlari, dia akan segera kembali.


Polisi juga mengintrogasi aktor yang sempat dicurigai. Namun aktor itu mengaku jika sepatunya memang hilang, hal itu sudah lama terjadi. Polisi tanya apakah ada seseorang yang dicurigainya. Aktor itu tak yakin, sebelumnya juga memang ada pencurian di ruang ganti itu. Tapi tidak ada CCTV yang bisa mengungkapkan pelakunya disana.



Gook Du kembali mendatangi tempat mobil bekas. Dia memegang aspal di tempat itu kemudian menciumnya. Dia menunjukkan ID polisinya pada pekerja disana dan menanyakan keberadaan pemilik tempat mobil bekas itu. Pekerja mengaku jika atasannya sedang pergi ke Sudan. Belakangan, suku cadang dalam negeri banyak dipesan di Afrika. Gook Du kembali mengintrogasinya, berapa lama dia pergi? Apa dia sering melakukan perjalanan keluar negeri?

“Dia pergi minggu lalu. Belakangan ini, harga besi tua nya sangat rendah. Jadi stok tempat pembuangan seperti ini berasal dari ekspor suku cadang kendaraan yang bekas. Makanya, dia sering bepergian ke luar negeri.”

Gook Du mengerti, dia pun pamit dari tempat mobil rongsok itu. Pekerja disana tampak memperhatikan Gook Du pergi, aneh.


Para gadis di Dobong-dong kini lebih suka untuk pulang bersama-sama. Dan beberapa orang ronda mau mengantar mereka ke rumah. Selain itu, mereka jadi parno kalo liat pria ber-hoodie dan tampak mencurigakan.


Sedangkan di sebuah tempat, seorang pria tampak menyaksikan video CCTV yang terpasang di kantor polisi. Lho kok bisa?

Rupanya benar jika pelaku adalah seorang yang menjadi saksi dalam percobaan penculikan pertama dan membuat korbannya meninggal. Dia datang ke kantor polisi menjadi saksi waktu itu kemudian memasang kamera pengintai di sudut ruangan tanpa sepengetahui polisi.


Ibu Gook Du tengah membeli pie kenari di tempat Ayah. Keduanya saling berchit-chat akrab seperti biasanya. Ayah yakin jika Gook Du belakangan ini pasti sangat sibuk. Ibu Gook Du membenarkannya, dia khawatir dan agak menyesal mengirim putranya ke akademi kepolisian. Ayah tidak sependapat, dia yakin kalau masa depan mereka akan cerah jika mempunyai polisi seperti Gook Du.

“Salah satu penulis favoritku, Alain de Botton, mengatakan ini. Sukses bukan tentang menghasilkan banyak uang dan punya jabatan tinggi. Menurut perspektif orang lain, itu dibilang bukan hidup yang sukses. Tapi menurut prespektif dirimu, kau harus beranggapan kalau kau mempunyai hidup yang sukses.”


Ayah memberikan pesanan pie Ibu Gook Du. Ibu memuji apron yang digunakan Ayah sangat cocok. Ayah tersipun, dia mengaku pernah punya impian untuk menjadi koki. Keduanya pun tertawa bersama. Tanpa disadari jika didepan pintu, sudah ada Ibu yang memantai keakraban keduanya.


“Kau bisa tertawa dalam situasi seperti ini? Selama kasus ini terjadi, sebagai polisi Gook Du berbuat apa saja selama ini?” nyinyir Ibu.

Ibu Gook Du jelas tersinggung. Lalu apa yang dilakukan oleh Bong Ki ketika ada seorang pasien kanker yang sekarat. Ibu menegaskan jika anaknya itu dokter spesialis ortopedi. Ibu Gook Du sungguh tidak bisa berkomunikasi dengan Ibu, dia pun memutuskan untuk pergi saja dari sana.


Ibu masih terus ngoceh sebal soalnya Ibu Gook Du sudah mengatakan hal bodoh, emang apa hubungan dokter dengan kanker. Ayah menyalahkan Ibu, dia yang sudah berbicara hal bodoh duluan. Ibu menyentak Ayah yang selalu tersenyum saat berbicara dengannya. Ayah mengelak, dia tidak tersenyum. Kapan? Kapan? Kapan? Bagaimana bisa dia bicara seperti itu?

“Kau sudah banyak melawan.”

“Aku tidak tahan lagi.” Bentak Ayah.

Ayah ketakutan melihat ekspresi Ibu berubah geram. Dia melipir menuju ke pintu untuk kabur. Tapi sayangnya, Ibu lebih sigap menarik baju Ayah. Dia mau pergi kemana?


Wajah Ayah sudah dijadikan samsak oleh Ibu. Wajahnya lebam-lebam setelah mendapatkan pelajaran dari istrinya. Duo Ahjumma melihat Ayah dengan kasihan, dia kadang iba kalau melihatnya sedang begini. Ayah sendiri tengah sibuk memainkan ponsel mencari nama Alain the Botton di mesin pencari, ia tersenyum mengingat nama itu.


Hyun Dong berdiri diatas mimbar menjelaskan profil seorang pria bernama Charles Go. Dia adalah otak dibalik pengembangan Industri Baek Tak. Ia pun mempersilahkannya untuk maju memberikan presentasi.



Charles Go membuka presentasinya dengan semangat. Dia menyadari jika belakangan ini karyawan Baek Tak banyak mengalami masalah. Nasih sebuah organisasi adalah para pekerjanya. Dia menunjukkan foto-foto para korban kebringasan Bong Soon. Mereka sudah mengalami banyak sekali kerugian karena karyawan mereka rata-rata mengalami kerusakan sebanyak 40%. Penyebabnya adalah wanita yang super small size berusia 27 tahun.

Tapi penyebab utamanya bukanlah Do Bong Soon melainkan Kang Bang Goo, neneknya. Dia pun kemudian menerangkan panjang lebar kerugian yang sudah dialami pihak mereka. Baek Tak menyuruh Cheol Su untuk berhenti ngoceh terlalu panjang. Charles menolak dipanggil Cheol Su, namanya itu Charles.


Bodo amat! Yang Baek Tak inginkan adalah caranya mengalahkan Do Bong Soon dan mengembalikan nama baik mereka. Charles rasa seseorang yang dilawan menggunakan pukulan maka harus dibalas dengan pukulan. Caranya adalah Da. Chi. Ma. Wa.



Kontan Baek Tak berdiri sok keren. Dia tanya apakah mereka harus melawan Bong Soon dengan cara keroyokan? Bagaimana mereka memancingnya kesana? Charles dengan cerdas menyarankan untuk menggunakan Voice pishing. 


Dia pun mempersilahkan dua tiga orang yang tampak polos ke atas panggung. Baek Tak tampaknya puas dengan ide mnggunekan voice phising.


Geng anak SMA sedang berkumpul menonton video Bong Soon melempar tiga Ahjussi berbadan besar. Salah satu diantara mereka menyarankan untuk memposting video itu ke youtube, namun bos geng menolak. Nunim pasti akan melarangnya. Tapi.. 

“Akan lebih baik jika banyak orang yang tahu kalau kita punya seseorang yang luar biasa seperti dia yang membela kita, dia sangat menakjubkan.” Ucap Si Bos kemudian.


Bong Soon datang ke rumah sakit untuk menemui Bong Ki. Adiknya belakangan jarang pulang ke rumah. Dia ingin uang sebagai ganti hadiah dari gaji pertamanya. Sedangkan untuk Ibu dan Ayah, sudah ia belikan mereka hadiah. Bong Soon berniat pergi setelah memberikan uang tersebut.

Bong Ki menghentikannya, dia mengaku jika sebenarnya dia menyukai Hee. Tapi tidak seharusnya dia berpacaran dengannya bukan? Bong Soon membenarkan, dia tidak boleh melakukannya. Itu sangat tidak adil. Ia membelai rambut adiknya dengan sayang, adiknya sudah tumbuh besar sekarang sampai punya cinta segitiga segala.



“Nuna juga semoga beruntung!”

“Semoga beruntung apa?”

“Aku ingin kau berpacaran dengan seseorang.”

“Siapa?”

Ahn Min Hyuk. Bong Ki rasa dia adalah seseorang yang cukup baik. Dan dari sudut pandang seorang dokter seperti dirinya, ia percaya kalau Min Hyuk bukanlah gay. Bong Soon tidak terlalu menggubris omongan Bong Ki, paling otaknya sudah dicuci oleh Ibu.


Anak buah Baek Tak sudah bersiap untuk melakukan penyerangan pada Bong Soon. Namun sayangnya Bos Baek Tak tidak setuju kalau mereka menggunakan senjata untuk melawan wanita. Gwang Bok berlutut dihadapan Baek Tak, mereka harus menggunakan senjata kalau tidak mungkin mereka bisa mati. Baek Tak tidak mau tahu, dia tak mengizinkan mereka menggunakan senjata.

Anak buah mereka pun akhirnya meletakkan batangan besi yang sudah dipersiapkan. Dan pergi menuju ke suatu tempat sedangkan Gwang Bok masih berlutut ditanah.


Ayah menari-nari gembira dirumahnya dengan alunan musik kencang. Bong Soon ikut bergabung joget dengan Ayah, apakah ayahnya sesenang itu bisa pergi piknik? Tentu saja Ayah menyukainya, dia terus menari dan Gyeong Sim bergabung bersama keduanya.


Ponsel Bong Soon berdering, dia menerima telepon dari Min Hyuk yang mengajaknya untuk latihan sekarang. Bong Soon mengerti. Dia menoleh ke arah yang tengah menari, ikut bahagia melihatnya.


Bong Soon membuka laci berisikan uang dan surat pemberian neneknya. Ia membuka surat dari nenek, “Cucuku tersayang, Bong Soon! Seorang anak kecil telah menjadi seorang wanita dewasa. Dan bahkan sekarang kau sudah dapat pekerjaan. Nenek sangat bangga padamu. Aku tahu kalau kau tidak bisa hidup seperti orang lain. Orang lain mungkin tidak mengira kalau punya kekuatan super sangatlah memalukan. Tapi dunia tidak seperti itu. Mereka akan menghinamu dan menindasmu jika kau sedikit berbeda. Tapi Bong Soon! Aku selalu bilang padamu untuk menghindari segala hal. Tapi kau tidak boleh malu dengan kekuatan yang kau punya. Itu adalah hadiah dari para dewa, yang akan digunakan untuk memperbaiki dunia. Aku mencintaimu, anjing kecilku.

Bong Soon membuka kotak berisikan hoodie merah muda yang tersimpan rapi di lemarinya.


Dia sudah bersiap untuk berangkat latihan. Ponselnya kembali berdering, Bong Soon berkata jika dia akan segera datang kesana. Orang yang menelepon terkejut, katanya dia sudah mau datang. Bong Soon jadi bingung mendengar suara orang diseberang yang tadinya dia kira Min Hyuk.

Tiba-tiba seorang wanita berteriak, dia menirukan suara Ibu mengatakan jika dia diculik. Wanita itu berakting seperti tengah dibekap. Pria satunya menyuruh Bong Soon datang ke alamat yang dia kirimkan. Dia memastikan supaya Bong Soon tidak menghubungi polisi, atau ibunya akan mati.


Bong Soon jelas panik, dia memberitahukan Gyeong Sim jika ibunya diculik. Gyeong Sim ikut panik menyarankan supaya dia menelepon polisi. Bong Soon melarangnya, pokoknya telepon terus nomor ibu. Jangan telepon polisi karena Ibu bisa bahaya.


Ayah menuruti perintah Bong Soon untuk menghubungi nomor Ibu. Tak lama kemudian, Ibu mengangkat teleponnya. Gyeong Sim tanya apakah Ibu diculi. Ibu memang baik-baik saja, memangnya siapa yang mengatakannya. Tak mungkin ada yang menculiknya karena dia akan memukuli mereka duluan. Gyeong Sim permisi mengakhiri telepon, dia menyuruh Ibu supaya menikmati tamasya-nya.

Gyeong Sim langsung curiga jika Bong Soon sudah terjebak voice phising.



Min Hyuk menelepon Bong Soon karena dia belum kunjung datang. Dia akan memotong gaji-nya 100ribu won setiap kali telat 10 menit. Bong Soon panik mengatakan jika Ibunya diculik, dia pun segera mengakhiri teleponnya dengan Min Hyuk. Min Hyuk panik memanggil namanya, dimana dia?


Sedangkan ayah menelepon Gook Du untuk meminta bantuannya menemukan Bong Soon. Gook Du mengerti, dia gerak cepat menghubungi kantor untuk melacak keberadaan Bong Soon. Dia pun memacu mobilnya secepat mungkin untuk menemukannya.


Min Hyuk juga menggunakan teknologi canggih miliknya sendiri untuk menemukan lokasi keberadaan Bong Soon.



Bong Soon masuk ke sebuah gudang dan memanggil nama ibunya. Namun ketika pintu terbuka, Ibunya tidak ada disana. Yang ada hanyalah gerombolan pria berjas hitam yang menatapnya sangar. Bong Soon tak takut diintimidasi tatapan mereka, dia maju mempertanyakan keberadaan ibunya.

“Apa? Ibumu?” tanya mereka mengejek.

Ponsel Bong Soon kembali berdering, Gyeong Sim mengabarkan jika Ibunya baik-baik saja. Bong Soon mengerti, dia menyuruh Gyeong Sim tak perlu mengkhawatirkan kondisinya. Dia akan mengatasinya.



Baek Tak dengan angkuh mengatakan jika dia ingin menantang Bong Soon secara resmi. Dia sudah menurunkan martabat gengnya. Sebelum melakukan itu, dia ingin supaya Bong Soon berlutut dihadapan mereka dan mengucapkan kata maaf. Mereka akan memvideonya.

“Benarkah? Tapi yang akan berlutut bukan aku, tapi kau.” Ujar Bong Soon meremas kenari sampai remuk.

Orang-orang dihadapan Bong Soon seketika ngeri dengan melihat Bong Soon, mereka langsung memegangi burungnya. Takut nasibnya remek kaya dua kenari ditangan Bong Soon. Bong Soon menantang mereka untuk memulainya.
=oOo=

Postingan terkait:

7 Tanggapan untuk "SINOPSIS Strong Women Do Bong Soon Episode 8 Bagian 2"

  1. Semangat ditunggu lanjutannya

    BalasHapus
  2. Keren... Gomawo... Gak sabar nunggu minggu depan.. 🙆👍😁

    BalasHapus
  3. keren maki hari makin keren ceritanya jadi penasaran ama kelanjutannya ?.?

    hallo mba puji salam kenal, maaf yahh asay selalu jadi silent readers soalnya aku selalu bingung mau koment apa, tapi aku selalu ngujungin blognya mba kok entah itu blog yang lama atau yang baru

    fighting yah mba nulisnyaa (y)

    BalasHapus
  4. Mb'puji bnerkan yg jg saksi itu pelakuny bkan adk ny. Tpi mb'puji blog ny pindah ya. Pkok ny ttp semangat mb'puji🤗🤗🤗

    BalasHapus
  5. Itu kejadian di mobil min hyuk kayaknya bukan karena bong soon ga bisa narik sabuk pengaman awalnya. Tp karena dia lupa masang sabuk, jadi mobil bunyi dan harus berhenti dulu buat masang sabuknya. Gitu deh alhirnya min hyuk bantu bong soon masang...
    Gatau ya mereka ni ntar pacarannya kayak gimana. Berantem mulu kali hahahahaha

    BalasHapus
  6. Makasih atas sinopsisnya.. Tetap semangat menulis ya..
    Anyeong 😊

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar jika berkenan. Dilarang copas ya kawan! Happy Reading ^_^